Selasa, 08 Mei 2012

Bombay



                Tanganku sibuk menyiapkan wajan, talenan, pisau dan minyak. Kutemukan sekotak tauge di lemari es, disusul kemudian bakso dan daun bawang. Aku mengernyit.
                “Bu, bawangnya di mana? Di dekat tempat beras ataupun kulkas nggak ada,” seruku sambil memunculkan kepalaku di pintu kamar paling kokoh di rumah ini, kamar orangtuaku.
                “Bawangnya ada di lemari di bawah kompor,” jawab ibu, memunggungiku, entah sedang mengerjakan apa. “Satu aja ya Rin bombaynya. Bawang putihnya beberapa saja,” tambahnya ketika aku sudah berbalik hendak ke dapur lagi. “Bawang putihnya dikeprek aja.”
                “Aku ngerti,” ujarku cepat, meskipun telingaku masih menangkap beberapa perintah ibu lainnya. Aku kembali dan menemukan beberapa bongkah bawang putih bersama dengan bawang-bawang lainnya. Saat itu aku tidak begitu tahu fungsi bahan-bahan lainnya. Lamat-lamat aku mulai menghancurkan bawang-bawang putih itu dengan pisau. Ada wangi yang khas menyapa hidungku, aku tersenyum mengingat bahwa wewangian yang seringkali membuatku masuk dapur dan bertanya-tanya “masak apa hari ini?” hanyalah wangi bawang putih yang dirajang.
Saat aku beralih pada bawang bulat berlapis-lapis kehijauan yang basah setelah kucuci, aku menyeringai. Bawang bombay itu terlihat menyegarkan, renyah dan manis, tapi mengerikan. Aku sendiri heran bahwa mengiris bawang itu tidak membuatku meringis dan meneteskan airmata seperti biasanya. Setelah bawang putih itu kurasa sudah cukup harum, aku menunggu lagi sebelum memasukkan bawang bombay. Bukan apa-apa, hanya keisengan belaka. Aku suka mencium baunya.
Sedetik sebelum aku memasukkan bawang bombay itu ke dalam wajan, aku berpikir. Tidak ada wewangian khusus yang melewati penciumanku. Aku melanjutkan dengan bahan-bahan lainnya.
Hari itu adalah pertama kali aku memasak utuh sejak masuk sekolah lagi. Terakhir kali aku membantu ibu atau sekedar iseng membuat sesuatu, aku tidak ingat kelas berapa. Sejak masuk SMA, aku jarang berada di rumah. Duniaku berputar di antara rumah dan sekolah saja, bahkan lebih banyak di sekolah. Kalau diingat, semangat sekali aku aktif di berbagai kegiatan organisasi dan ekstra kurikuler, termasuk OSIS dan Rohis. Memasak seperti ini lebih sering kulakukan saat dauroh, membantu teman-teman yang bertugas menyiapkan konsumsi sebelum materi selesai disampaikan oleh pembicara. Jarang sekali aku memasak di rumah. Kalaupun pernah, itu untuk diriku sendiri. Aku ingat seorang adikku pernah mengiris jarinya sendiri, membuatku tertarik dan memikirkan kemungkinan aku mengiris jariku seperti itu juga. Aku juga ingat temanku yang pandai memasak, selalu mengambil bawang dari tanganku dengan alasan aku terlalu lama mengupasnya. Aku hanya berdecak santai mengingatnya. Biasanya, aku tiba di rumah pada malam hari. Paling cepat, saat Maghrib aku baru turun dari ojek di depan gang rumah. Hari libur aku pergi lagi, entah rapat, mengaji, atau sesuatu seperti itu di sekolah. Rumah menjadi tempat tinggal yang nyaman bagiku, untuk aku beristirahat dan paginya kembali ke medan juang.
Bagamanapun, aku merasa senang bisa memasak lagi hari itu.
Hari-hari berikutnya aku melanjutkan “order” ibu, membuatkan masakan yang sebetulnya aku tahu hanya sedikit di antara keluargaku yang memakannya. Awal liburan sudah kumanfaatkan dengan berbagai kegiatan, maka kali ini aku ingin sekali-kali memasak di rumah lebih banyak dari biasanya. Berkali-kali aku menggunakan bawang-bawang itu, aku mulai terbiasa untuk tidak waspada di hadapan bawang bombay. Tentu saja, sebab beberapa kali aku mengirisnya, sedikit atau banyak, bahkan menyimpannya dan membauinya, mataku masih segar seperti biasa. Aku bahkan lupa berapa takaran yang semestinya kusiapkan, berapa garam yang harus kutabur, saking terbiasanya aku memasukkan seluruh bahan ke wajan. Menunya kurang lebih selalu sama. Sayur itu, bakso itu, sosis itu, telur, masak nasi, tabur lada, semuanya, dan iris bawang. Aku tahu ibu hanya tidak ingin memberatkanku dengan menu macam-macam yang sangat pandai ia siapkan.
Tapi aku paham sifatku, kadang aku ini tidak bisa diandalkan.
Pagi itu, aku bangun lewat dari pagi. Pagi yang sejuk di hari Jum’at. Aku sudah memperingatkan diriku untuk menaruh perhatian pada kajian siang nanti, mempersiapkan kata-kata yang hanya kurangkai dalam kepalaku. Semalam aku membaca hingga larut, menyelesaikan buku yang sudah lama kubeli. Bukan tidak sengaja aku berdiam di kamar, hanya sekadar tidur-tiduran dan memikirkan akan menyampaikan apa pada anak-anak di sekolahku nanti. Setelah menghabiskan waktu, aku sadar ibu sudah memanggil-manggil. Ups.
Aku turun ke bawah dengan berbagai perlengkapan, bersiap untuk pergi. Ibu ada di kamarnya, melakukan sesuatu di depan cermin.
“Masak nasi ya Rin, terus buat sayur lagi. Hari ini daging ikannya..”
“Iya Nanti, mandi dulu” kataku memotong, segera bergegas masuk kamar mandi. Aku benar-benar merasa bodoh, terlena dengan liburan. Sudah cukup aku memasak dan melakukan hal-hal itu kemarin.
Hari ini aku harus fokus pada materi kajianku. Anak-anak itu sudah beberapa pekan ini tidak kutemui, karena merekapun libur. Liburanku bukan berarti liburan dakwah. Ah, aku medapat ide untuk pertemuan nanti. Senyum menghiasi wajahku, seperti anak kecil.
Aku sudah mempersiapkan barang-barang bawaanku di sofa, bersiap untuk pergi. Sebelum itu, aku menghampiri ibu yang sudah terdengar omelannya dari dapur.
Ibu sedang mencuci beras. Aku menghentikan langkahku menuju lemari es untuk mencari sayur, sebab kulihat sayur dan bahan-bahan lainnya sudah terpotong-potong rapi di pinggir wastafel. Aku menyeru kagum, tapi rupanya ibu tidak begitu senang.
“Ibu harus memanggil sampai berapa kali? Anak-anak ibu kok susah banget dimintai tolong. Dipanggil-panggil nggak ada yang jawab. Cuma masak gini aja, kok, nggak ada kesadarannya sedikitpun.”
Eits, aku tahu sifat ibu yang satu ini. Tidak akan berhenti. Oke, aku punya alasan-alasan yang membuatku bisa menganggapi omelan itu, tapi tidak kuucapkan. Aku beralih pada baskom berisi sayur-sayur. “Buat sayur ini lagi, bu? Kemarin dulu aku buatnya kebanyakan,”
“Ambil bawang yang agak besar. Bawang putihnya segini,” jawab ibu datar sambil menggapaikan tangannya ke baskom.
Kurang nih, aku harus bicara lebih banyak lagi. “Aku selalu nggak bisa melumatkan bawang putihnya nih,”
“Pakai batu dong! Pakai pisau memang lemah. Makanya pakai batu, digerus..”
“Iya oke aku ngerti, aku saja yang kerjakan, bu.”
Ibu kemudian membuat adonan tepung, tapi aku tidak begitu melihat apa yang dikerjakannya. Ia memunggungiku dan mulai mengomel lagi. Sesaat, aku mengutuki adikku yang ada di ruang tengah, berharap ia datang untuk membantu atau sekedar menyenangkan ibu kembali.
“Masa mengerjakan ini harus selalu ibunya, apa gunanya punya anak-anak perempuan? Ibu kan mendidik kalian juga, tapi nggak begini. Jangan selalu bergantung sama orangtua,”
Lah dari kemarin aku ngapain? Main boneka?
“Ibu sudah panggil-panggil dari pagi, nggak ada yang turun. Pas satu turun, langsung mandi, buru-buru mau pergi. Nggak boleh begitu,”
Aku mulai melumatkan bawang putih. Hore, lebih lumat daripada biasanya. Kenapa nggak dari dulu aku memakai ulekan batu? Karena aku terpaku pada cara orang-orang yang kulihat sebelumnya, dari ibu sampai teman-temanku, yang melumatkannya hanya dengan pisau. Kali ini, aku belajar satu hal lagi. Tidak seharusnya aku terpaku pada perbuatan orang lain. Jika ada cara yang lebih baik, lakukanlah.
Aku tidak sadar bahwa saat itu aku mulai melamun, sedangkan ibu memperhatikanku.
“Kamu mau ngapain sih ke sekolah?”
Wua, omelannya masih berlanjut. Yah, tapi syukurlah sudah melunak. “Aku ada kajian, hari ini kan hari Jum’at. Nanti aku berangkatnya siang,” tambahku cepat agar tidak terlihat menolak pekerjaan yang sedang kulakukan ini.
“Makanya kalau dipanggil orangtua tuh nurut, bangun yang cepat supaya bisa langsung selesai semuanya,” kembali lagi.
Ibu berbalik dan melanjutkan dengan adonannya. Ada bunyi-bunyian sesuatu membentur sesuatu, serta bunyi riak yang ditimbulkan oleh adonan tepung dan telur, tapi ibu masih memunggungiku.
“Turunnya ketika ada perlu doang. Rumah ditinggal. Anak-anak pergi terus keluar, nggak mengerjakan pekerjaan di rumah. Tapi kalau orangtua yang mengerjakan, semuanya wajar! Karena itu pekerjaan orangtua, anak-anak sih tunggu disuapin aja,”
Lah yang lagi ngulek bawang ini siapa? Jin?
“Kamu tuh nggak boleh begitu, rumah juga punya hak atas kamu,”
Tanganku terhenti sejenak. Aku lalu menyingkirkan serpih-serpih bawang putih itu dan menarik bawang satunya. Duh, betapa kata-kata bisa sangat bermakna.
“Orangtua yang melakukan semuanya, itu wajar kalau anaknya masih pada kecil-kecil, masih bayi, belum bisa melakukan apa-apa! Tapi ini, anaknya perempuan, kok tetap orangtua yang melakukan semuanya? Dipanggil-panggil nggak turun juga!”
 “Enak ya semuanya dilakukan orangtua! Nanti apa jadinya hidup kalian! Memangnya orangtua akan ada terus!?”
Aku tidak menemukan keinginan untuk pergi ke sekolah lagi. Sesuatu dalam diriku memaksaku untuk membuka hati dan mendengarkan, betapapun banyaknya alasan untuk melawan. Wah, apa jadinya kajianku hari ini..
“Nanti kan kalian hidup sendiri. Gimana jadinya kalau ibu sudah meninggal!?”
Prakk! Benar-benar irisan yang buruk pada lapis bombay yang mulai terpecah belah.
“Makan apa kalian nanti? Nggak ada yang masak! Ini juga kalau ibu nggak melakukan ini, nggak ada yang masak!”
Pasti ada. Ibu kan tadi sudah berpesan. Aku akan melaksanakannya begitu ada kesempatan.
“Oh! Gampang ya? Tinggal minta uang aja, beli makan di luar! Kalau orangtua sudah tidak ada, minta uang sama siapa!?”
Mataku menyipit. Mencoba fokus mengiris sama rata. Entah kapan, adikku sudah masuk dan menghampiri ibu. “Ya sudah sini, aku saja yang mengerjakannya.”
Untuk beberapa lama, ibu masih mengomel dan adikku tetap memintanya gantian memasak. Ucapan-ucapan ibu masih sama. Setelah beberapa kali mengomel lagi, ibu meninggalkan dapur. Sesekali keluhannya masih terdengar.
Adikku mengambil kendali. Ia mulai menyalakan kompor. “Sini kak, pakai wajan yang ini.” Ia mempersiapkan wajan satunya untuk menggoreng ikan.
Aku bergeming. Masih mengiris bombay. Dalam kepalaku sudah tersusun kata-kata maaf pada adik-adik di sekolahku. Betapapun salah, betapapun tidak berhubungan, banyak pelajaran yang masuk dari makian ibu, meski tidak ditujukan pada siapapun.
Sial, mataku perih. Sekarang bombay ini seperti mengajak perang. Aku tidak benar-benar punya pelindung gas, kau tahu.
Bombay menyakitkan, jangan membuatku menangis sekarang.

_Kamar Kalibata, 16 Januari 2012, 02.35

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar