Selasa, 08 Mei 2012

Sekular-Sekularisme-Sekularisasi


Beragam masalah timbul akibat sekularisasi dan menimbulkan banyak kekeliruan di kalangan masyarakat, termasuk umat muslim. Penting untuk diketahui bahwa masalah-masalah ini muncul disebabkan oleh masuknya cara-cara Barat dalam berpikir, menilai, dan meyakini sesuatu, pada masyarakat kita. Oleh karena itu, penting pula bagi kita memahami dasar pengertian mengenai hal-hal semacam ini.
Secular, yang berasal dari bahasa Latin saeculum, mengandung suatu makna yang ditandai dengan dua pengertian yaitu waktu dan ruang. Sekular dalam pengertian waktu merujuk kepada ‘sekarang’ atau ‘masa kini’, sedang dalam pengertian ruangmerujuk pada ‘dunia’ atau ‘duniawi’. Karena itu, saeculum bermakna ‘zaman ini’ atau ‘masa kini’ yang juga merujuk pada ‘peristiwa-peristiwa masa kini’. Tekanan makna pada istilah ini diletakkan pada suatu waktu tertentu di dunia yang dipandang sebagai proses sejarah. Konsep sekular merujuk pada keadaan dunia pada waktu, tempo atau zaman ini.
Sekularisasi didefinisikan sebagai pembebasan manusia ‘pertama dari kungkungan agama agama dan kemudian dari kungkungan metafisika yang mengatur akal dan bahasanya.’ (1965:2). Sekularisasi tidak hanya meliputi aspek-aspek sosial dan politik dalam kehidupan manusia, tetapi juga tentunya meliputi aspek kebudayaan, karena sekularisasi bermakna ‘hilangnya pengaruh agama daripada simbol-simbol kebudayaan’.
            Bagian-bagian utama dari dimensi sekularisasi adalah ‘penghilangan pesona dari alam tabi’i’ (disenchantment of nature), peniadaan kesucian dan agama dari politik (disacralization of politics) dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values). Maka sekularisasi dan sekularisme adalah dua hal yang berbeda. Sekularisasi berada dalam suatu proses yang berkelanjutan dan terbuka (open-ended), di mana nilai-nilai dan pandangan alam (worldview) secara terus menerus diperbaharui sesuai dengan sejarah yang berevolusi. Adapun sekularisme, seperti agama, menayangkan pandangan alam yang tertutup dan faham nilai yang mutlak sesuai dengan adanya maksud akhir sejarah yang menentukan hakikat manusia. Maka, sekularisme memberi maksud sebuah ideologi
 Adapun meskipun ia sama dengan sekularisasi dalam hal menghilangkan pesona dari alam tabii, sekularisme tidak pernah menghapus kesucian dan kemutlakan nilai-nilai karena ia membentuk sistem nilainya sendiri dengan maksud supaya dipandang mutlak dan tidak berubah. Jadi, sekularisme tidak seperti sekularisasi yang menisbikan semua nilai dan menghasilkan keterbukaan dan kebebasan yang perlu bagi tindakan manusia dan untuk sejarah. Karena itulah, ada yang menganggap sekularisme merupakan bentuk ancaman terhadap sekularisasi sehingga sekularisme selalu didesak dan dikekang agar tidak menyebar menjadi ideologi di suatu negara.
Definisi sekularisasi yang menggambarkan hakikat sebenarnya kepada pemahaman kita sangat berhubungan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan spiritual, intelektual, rasional, jasmaniah dan material manusia Barat, serta kebudayaan dan peradaban mereka. Akar sekularisasi bukan dalam kepercayaan akan Injil, melainkan dalam tafsiran manunsia Barat terhadap kepercayaaan kitab tersebut. Yaitu ia berakar pada hasil sejarah panjang perseteruan dala filsafat dan metafisika antara pandangan alam (worldview) manusia Barat yang berdasarkan agama dengan yang rasionalis murni. Kesalingtergantungan antara tafsir Injil dan pandangan alam Barat ini berjalan dengan sejarah, dan dilihat sebagai suatu pembangunan.
Dalam pembahasan mengenai sekularisasi, pembahasan agama tidak akan terelakkan. Sebab, agama merupakan unsur dasar dalam kehidupan dan eksistensi manusia, sedangkan sekularisasi muncul seolah untuk menentang agama. Agama diartikan dalam konteks historis dan keyakinan yang bersifat samar, kemudian mereka menerima definisi yang sebenarnya berasal dari otoritas sekular yang telah membudaya. Menurut mereka, agama merupakan sistem kepercayaan, amalan, sikap, nilai, dan cita-cita yang tercipta dalam sejarah dan konfrontasi manusia dengan alam, yang berevolusi dalam sejarah dan melalui proses perkembangan, seperti halnya manusia yang mengalami proses yang sama. Dari sini dapat dilihat, bahwa mereka berpendapat bahwa agama memerlukan perkembangan, seolah agama tidak pernah sempurna sebelumnya. Hal ini berlawanan dengan ajaran Islam yang telah sempurna semasa Rasulullah saw. menyampaikannya. Perlu diingat bahwa Islam selalu sesuai dengan kondisi zaman, Al-Qur’an dapat dimengerti oleh mereka yang menyukai pembuktian ilmiah ataupun mereka yang mengerti dengan kesederhanaan.
Sekularisasi sebagaimana yang didefinisikan golongan Barat, dipandang oleh para penganut teisme di antara mereka sebagai suatu masalah serius bagi agama. Sekularisasi sebagai suatu keseluruhan tidak hanya merupakan pernyataan dari pandangan alam yang  tidak islami, tetapi juga berlawanan dengan Islam.
Kerana Islam merupakan agama yang melewati pengaruh evolusi dan kesejarahan manusia, maka nilai-nilai yang dikandung di dalam Islam bersifat mutlak. Karena itu, Isla memiliki pandangannya yang tersendiri mengenai Tuhan, alam semesta, realitas, dan manusia. Keseluruhan pandangan inipun bersifat mutlak. Islam juga memiliki penafsiran yang tersendiri terhadap realitas, baik dari sudut ontologi, kosmologi atau psikologi.
 Islam memiliki pandangan alam (worldview) dan pandangannya yang tersendiri mengenai Hari Akhirat. Oleh karena itu, Islam menolak secara keseluruhan konsep ‘penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agam dari kehidupan’ (deconsecration of values), jika diartikan dengan menisbikan semua nilai yang terus-menerus muncul dalam sejarah seperti yang dimaksud dalam sekularisasi. Islam menolak penerapan apapun dalam konsep sekular, sekularisasi atau sekularisme dalam dirinya, karena ketiganya bukanlah milik Islam, melainkan hanya suatu hal yang asing dilihat dari manapun. Sebab konsep-konsep semacam itu hanya cocok dan dalam konteks sejarah intelektual Kristen dan Barat.
Kristen dan Barat seringkali sangat bersandar pada teori-teori dari filsuf-filsif mereka, ahli metafisika, scientist, paleontolog. Antropolog, dan sebagainya. Sedagkan Islam tidak seperti itu. Kebanyakan kaum Kristen-Barat jarang dan bahkan mungkin tidak pernah mengamalkan kehidupan beragama, serta selalu bersikap skeptis, ragu dan terlalu ‘kritis’ hingga tak tertolong lagi.
Ketika Aristoteles memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Romawi di mana Kristen kemudian merumuskan dan membentuk dirinya sebagai agama Kekaisaran Romawi dan dunia Barat, rasionalisme murni ini beserta naturalismenya melucuti alam tabii dari makna spiritualnya, sehingga kemudian alam hanya dapat dikenali dan dimengerti oleh akal manusia, yang mana merupakan salah satu fator kuat dalam penafsiran pandangan alam (worldview) dalam ajaran Romawi.
Sebenarnya pastilah masih ada filsuf dan ilmu-ilmu filsafat lain yang mengakui kepentingan spiritual dan perenungan intelektualisme atau metafisika dan sebagainya dalam dunia Yunani dan Romawi, juga di berbagai penjuru dunia lainnya, namun konsep-konsep yag dikemukakan Aristoteles inilah yang memegang pengaruh paling besar, sehingga ketika agama Kristen muncul ke muka umum, rasionalisme murni dan naturalisme telah menguasai pikiran dan kehidupan orang-orang Latin.
Apa yang dianggap rasional oleh Islam tidak semata-mata berkaitan dengan  sistematika fikiran dan penafsiran logis mengenai fakta-fakta pengalaman. Karena akal rasional adalah suatu penayangan bagi akal pikiran, maka ia bekerja sesuai dengan akal pikiran, yang merupakan suatu substansi spiritual dan menjadi bagian dari organ spiritual yang dikenal sebagai hati.
Dengan demikian, teolog-teolog Barat telah membuat perbedaan penting antara sekularisasi dan sekularisme, di mana sekularisme adalah nama yang merujuk bukan pada suatu proses, tetapi hasil akhir dari proses sekularisasi ke dalam bentuk tertentu dan khusus, yaitu suatu ideologi. Dan ini tergantung dari bagaimana kita melihat ideologi itu sendiri. Sedangkan, mereka memberikan penafsiran bahwa tidak setiap isme adalah suatu ideologi, karena ia bergantung kepada istilah yang diakhiri dengan isme itu sendiri. Jika isme menjadi akhiran dari kata sekular, kapital, sosial, atau nihil, maka dalam pengertian ini menunjukkan suatu ideologi. Tetapi apabila isme berada di akhir kata real atau rasional, maka bukan pengertian sebagai ideologi yang diberikannya di sini. Maka penggunaan kata seperti demikian perlu kita carmati dengan baik.
Sekularisme ataupun sekularisasi, meskipun berbeda pada pandangan alam yang terbuka atau tertutup dan beberapa hal lainnya yang sebenarnya tidak begitu berarti, keduanya tetap memiliki pandangan yang berbeda dengan Islam, sehingga menunjukkan pertentangan kepada Islam. Meskipun ahli teologi mengatakan bahwa sekularisasi berasal dari dalam kepercayaan Injil dan sekularisme berasal dari dalam filsafat dan sains Barat, keduanya tidak jauh berbeda, bahkan dapat dikatakan keduanya sama karena berasal dari akar yang sama, yaitu filsafat, sains, dan metafisika Barat. Maka, istilah sekularisme tidak hanya merujuk pada ideologi-ideologi sekular, tapi juga mencakup seluruh pernyataan pandangan alam sekular termasuk yang diberikan oleh sekularisasi, yang tidak lain merupakan relativisme historis sekular yang disebutkan oleh penulis sebagai sekularisasionisme.
29 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar