Selasa, 08 Mei 2012

Takut


Saat pertama kabar sampai di telinga, aku sungguh tak dapat berkata.. Cepat kukuasai diriku, sebab aku tidak benar-benar mengenal mereka yang di sana.. Tapi, kemudian segera merasuk kembali dalam pikiranku.. Aku berharap ini semua hanya suatu kesalahan.. Ya, aku berharap.. Maka kujalani aktivitas pagi seperti adanya.. Hingga aku sampai ke pondok satu lagi, melihat kesibukan dan rangkaian bunga.. Allah, semua itu benar? Sempat terlintas begitu dalam pikiranku.. Hingga aku benar-benar melihatnya, kemudian turut bersembahyang dan mendo'akannya,, barulah aku meneteskan air mata.. Air mata simpatik, disertai sedikit rasa takut yang kutepis berkali-kali.. Allah, Allah, Allah..
Lembaran-lembaran hijab berkelebat di sana sini. Dalam kedukaan akan perpisahan, ada yang bertemu kembali dan ada yang bertemu pertama kali.. Orang hebat, pengantin baru, buah hati, perantauan.. Setiap suara dari ucapan-ucapan, langkah kaki, pengeras suara, dzikir, apapun itu, merasuk ke dalam kepalaku. Aku yang pada dasarnya tidak menyukai keramaian, tidak bisa bertahan di tengah-tengah mereka. Segera pulang. Menepis rasa takut yang tidak jua hilang.
Hingga aku duduk dalam terios memperhatikan jalan, menjilat cokelat yang kini kurasa benar efek penenangnya, sampai aku tertidur, aku benar-benar tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya kupikirkan. Atau mungkin aku yang tidak mau mengerti. Mereka menangisi sosok yang berharga di sana, sedangkan aku tenggelam dalam perputaran waktu dan memori, berkelebat bayang-bayang...
Aku terbangun, tepat sebelum roda-roda itu berhenti. Pikiranku kosong hingga aku memasuki wilayah pesantren dalam gurat-gurat mendung siang menjelang sore. Kenapa tidak turun hujan? Begitu bisikku, namun segera kusesali. Dan aku berpikir kembali. Tubuhku merinding lagi... Tak sempat mengikuti prosesi pemakaman, kami pulang. Sedikit membahas kronologis, menatap potret-potret yang menghantarkan sentrum pada otakku. Oke, takkan kutepis lagi. Aku memang takut.
Aku takut. Menerima kabar duka itu, aku takut. Telah lama sejak terakhir kali aku menerimanya. Mungkin hatiku telah bebal terhadap ia yang semestinya terus kuingat. Karena itulah aku menolak kebenaran adanya kabar ini. Aku takut. Menatap iringan itu, aku merinding. Sungguh jarang aku melihatnya. Aku lemas, tapi tahu aku harus berani menatapnya. Bukankah kehadiran sang malaikat terasa dengan adanya iringan itu? Itulah peringatan. Aku takut. Berada di tengah-tengah keramaian manusia. Seolah hanya aku yang merasa takut sedang mereka lebih terpusat pada sesama manusia; seringkali dirinya sendiri. Aku takut.
Allah, aku berlindung hanya kepada-Mu. Aku tahu Engkau merindui hamba-Mu, hamba yag benar-benar mempersembahkan penghambaan kepada-Mu. Allah, aku takut akan pengingat dari-Mu. Pengingat bahwa dunia hanyalah fana. Pengingat bahwa tidak ada yang dapat kubawa ketika namaku dipanggil oleh-Mu Yang Maha  Pemilik Segala. Aku takut meninggalkan keluarga dan teman-temanku, sedang hanya itu yang kumiliki. Tidak, bahkan aku tidak memiliki sesuatu apapun. Engkau-lah pemilliknya. Allah, aku tidak ingin berhenti menyebut nama-Mu ketika keranda itu ditangisi. Aku takut, Tuhan-ku.. Seseorang yang meninggal di sana begitu lembut menerima panggilan-Mu, meski keras tubuhnya tersakiti oleh tabrakan ketentuan yang tak pernah terbayangkan olehku atau orang-orang lainnya. Aku takut, apalah artinya diriku ini. Usia yang memasuki masa produktif, semestinya aku menghasilkan sesuatu untuk-Mu, meski tiada bisa menandingi karunia-Mu. Beliau sudah begitu keras berjuang, begitu berjasa hingga kematiannya ‘kan terus dikenang. Dan aku apa? Pada kematian seseorang yang luar biasa aku menghadapkan wajahku, dan pada kebodohan diriku aku bersembunyi. Maafkan aku, Ya Allah. Jika harus aku merasa takut, demi mengingat-Mu, tak dapat aku berkata selain meminta ampun-Mu…
_21 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar