Minggu, 09 Juni 2013

Membeku



Terpaku oleh waktu
Sosok-sosok yang teronggok meratap dan menggeletak
Seperti telah tersapukan seluruh keinginan dalam hatinya
Seperti telah tertelan dalam putaran takdir yang membisu
            Terpaku oleh waktu
            Sekelebat bayang-bayang gelap dasi dan tas kulit hitam
            Sumringah di wajah sesenti lebih tinggi melihat kilau berlian
            Terlena dalam jutaan jepretan media yang semakin palsu
Samudra menggelegak
Merespon tangis langit di mana awan terlihat koyak
Memerintahkan jutaan buih, menghampiri lava yang terlelap
Akan tiba saatnya kau bangkit, binasakan para perusak

Terkurung dalam memori
Semburat merah pipi anak-anak yang bermain dan berlari
Aroma segar para wanita yang bercengkrama di sore hari
Tawa gembira, bahagia, saat kepala keluarga telah kembali
            Terkurung dalam memori
            Lompatan kecil putih merah di antara bebatuan
            Percik jernih yang ditimbulkan riak dan arus jeram
            Hijau sawah, lembah kabut dan puncak pohon durian
Menangis sudah potret para pendahulu
Pelukis sejarah yang pupus harapnya akan pewaris
Tumbang sudah pohon-pohon impian dalam sendu
Menyisakan benih, berbalut cinta tapi keruh dalam tangis

Udara semakin pekat menggeliat dan menggeram
Wajah-wajah yang masih memandang dengan satu mata terbutakan
Palsu, palsu, segalanya penuh intrik dan kuasa tanpa setitik moral
Tak sabar kaki tangan dan lidah untuk bersaksi meminta sesal
            Gemuruh langit berputar menurunkan kegelapan malam
            Membalut sosok-sosok tanpa daya dalam dingin peremuk tulang
            Tangan-tangan kuasa esa terulur di atas kepala batu manusia
            Menutup, mengambil dan menghentakkan masa
Tiada daya, tiada upaya
Gelap ‘kan menyelimuti tanpa suara
Mata terpejam tanpa sempat menatap asa
Lenyap, sirna tiada kau merasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar