Senin, 21 Oktober 2013

Masih Jauh


Sebuah tulisan untuk Mata Kuliah Penulisan Populer

Napasku tersengal. Gila! Seharusnya aku tidak bekerja sama dengan orang-orang itu! Hidungku kembang kempis tanpa irama, hasil dari berlari tanpa henti. Langkah kaki yang terburu mulai melambat. Hampir mati rasanya. Entah sudah berapa jam berlari, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Mataku sudah terbiasa dengan kegelapan, tapi sama sekali tidak kuperhatikan jalan di bawah sepatu usangku. Di pipiku masih ada jejak tangis. Pengecut memang. Sudah seberapa jauh kutinggalkan tempat itu? Ah, aku tidak bisa memikirkannya. Aku meninggalkanmu. Wajahmu. Lari! Itu saja yang ada dalam pikiranku.
            Ponselku bergetar. Tanganku juga gemetaran saat merogoh kantung jeans belel yang kukenakan untuk meraih teknologi murah itu. Nyaris terselip jatuh, tanganku licin oleh keringat. Kusahuti panggilan dengan kedua tangan memegangi ponselku.
            “Apa? ..Entahlah, aku tidak tahu! Masih gelap … apa maksudmu? Itu bukan salahku! Kau sendiri lari seenaknya seperti ayam! Hancur semua! …hei!”
            Suara di seberang berubah menjadi dengingan keras yang menyakitkan telinga. Asal saja kutekan tombol-tombol itu. Baterainya nyaris habis. Aku mengumpat. Tidak sempat kutanyakan di mana keberadaannya dan dia sudah memutuskan pembicaraan, kurang ajar!
“Aku tahu kau bekerja untuknya.”
Tiba-tiba aku merinding. Tersentak. Terdengar suara-suara di belakangku. Keramaian pagi, baru kusadari matahari sudah memanjangkan sinarnya dan menemukanku yang berada di balik balok-balok kayu. Kupaksakan kakiku untuk berlari lagi.
           
            “Kopi hitam?” tanya bocah itu.
            “Iya, hitam.” Ujarku tanpa melihat wajahnya. “Kau punya, kan?”
            Bocah lelaki belasan tahun itu mengangguk-angguk canggung, lalu mulai menyeduh. Mungkin masih terlalu pagi untuk seorang lelaki tua berwajah buruk menyelinap warung yang baru saja diangkat tirai penutupnya. Apalagi kemeja yang kukenakan ini sudah basah oleh keringat. Warna biru motif kotak-kotaknya terlihat seperti ungu. Jika kucuci dengan baik, noda merah di sana tidak akan terlihat lagi. Sudah tiga hari aku berjalan. Pasti sangat buruk kelihatannya. Uangku sudah habis.
Bocah itu masih menatapku. Saat kubalas tatapannya, ia jadi terlihat panik dan terburu-buru. Bah, apa ini masalah? Yang kuminta hanya secangkir kopi.
            Aku tidak bisa memusatkan perhatian. Leherku terus bergerak mengikuti kepalaku yang terus menoleh dan mendongak. Warung-warung lain terlihat mulai sibuk, mereka membuka pintu dan menata bungkus-bungkus minuman instan. Di jalanan pun para pedagang kaki lima sudah mulai beraktivitas. Beberapa pembeli sudah berdatangan. Ah, pasar. Terakhir kali aku datang ke pasar seperti ini, yang kudapat hanya keluhan dari perempuan yang tidak mengerti apa-apa! Tentu saja. Wajahnya baru akan menampakkan seringai tipis ketika berada dalam toko yang dipenuhi kilau permata.
            Jantungku berdegup. Aku tidak ingin mengingatnya. Wajah penuh riasan yang muncul dalam benakku menjadi kabur dan berganti-ganti. Wajah itu tertawa. Mengerut. Kemudian bersemu. Bukan, ketakutan. Tidak, tidak. Air matanya nyata sekali, berbeda dari yang sebelumnya. Tertawa lagi.
            Menurutmu aku bisa meminta dibelikan yang ini?” Suaranya berdesir di dalam kepalaku. Suara yang manis dan sedikit serak. Kikik tawanya khas sekali. Terngiang-ngiang. Bayang-bayang kerut kecil pada sisi matanya menghiasi senyuman lebar yang menampakkan deretan gigi putih memukau. Senyumnya tidak ditujukan padaku. Padahal aku bisa membelikan itu seandainya orang yang dia perhatikan itu menggajiku lebih baik lagi. Perempuan itu menatapku, tapi jauh. Gambaran itu berpendar dan berganti-ganti. Kepalaku berdenyut, wajah itu menghantuiku sepanjang pelarian malam-malam kemarin. Matanya terbelalak dan senyumnya rusak. Tapi tawanya tetap bergema di telingaku. Sakit sekali kedengarannya. Kupejamkan mataku kuat-kuat. Matanya menangis…
            “Bung, kau kenapa?”
            Keras kuangkat kepalaku. Di sampingku duduk seorang laki-laki berseragam cokelat. Kulitnya keling dan matanya hitam legam. Wajahnya bertanya, namun pada saat yang sama juga menunjukkan rasa tidak ingin tahu.
            Kuturunkan telapak tangan dari telingaku. Aku menggeleng kecil dan melontarkan pandangan “bukan urusanmu” sekilas. Meskipun aku yakin, lingkaran hitam di bawah mataku pasti akan melemahkan sorot mata sok kuat yang kupancarkan. Sial, aku melemah. Pelarianku sudah berhasil dan tidak ada jejak yang kutinggalkan sehingga polisi tidak akan mengejarku lagi. Tetap saja jiwaku sudah surut, kepalaku dipenuhi berbagai hal yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang waktu bersamamu. Aku tidak punya tujuan lagi.
            Lelaki di sampingku kembali pada piring gorengannya. Wajahnya terlihat santai, tidak adakah beban pikiran di kepalanya yang berambut cepak itu? Dia meminta air pada si bocah sambil membicarakan banyak hal. Kubiarkan mereka berbincang tanpa memperhatikan sedikitpun.
            “Kopinya keburu dingin, bang.” Bocah warung itu mengingatkan. Aku baru sadar bocah itu sudah berganti pakaian. Seragam merah putih yang dikenakannya terlihat lusuh. Ia membenarkan letak topinya yang kebesaran. Heh, baru sekarang kuperhatikan wajahnya. Anak ini seharusnya sudah SMP.
            “Kalau aku punya anak, lebih mudah menarik dia untuk bersamaku, bukan?”
            Aku menggeleng kuat. Kamu tidak sadar! Tidak pernah sadar! Kenapa wajahmu begitu sumringah setiap kali membicarakan orang seperti itu, heh! Kau tidak pernah cukup dengan apa yang kuberikan padamu! Napasku memburu lagi. Tanganku gemetar. Suara-suara yang lain terdengar di telingaku. Suara-suara para laki-laki.
            “Kau seharusnya mengawasinya. Jangan biarkan ia bertingkah!” diikuti bayang-bayang uang. Harta semu! Sudah lama kubiarkan lembar-lembar baru itu teronggok begitu saja di bawah bantalku. Di saat aku memerlukannya, ia tidak pernah ada! Mana sempat aku mengambilnya, kamar itu pasti sudah dibuat porak-poranda oleh mereka.
            “Kau cukup mengawasi di sana.”
Kemudian bayang-bayang itu. Bayang-bayang mengerikan yang terbungkus kegelapan malam. Bayang-bayang yang mungkin akan menghantuiku seumur hidup.
“Di sini bukan lagi tugasmu! Pergilah! Kau tidak diperlukan lagi jika sudah terlalu banyak tahu,”
…dan aku meninggalkanmu. Menjauh lagi. Hanya saja, kali ini lebih buruk. Meninggalkanmu berarti membiarkanmu meninggalkanku. Takkan lagi kutemui ringis kecilmu.

            Denting gelas membuat mataku terbuka.
            “Kau dengar ribut-ribut beberapa hari ini? Sepertinya ada maling atau apa,”
            Mataku terbelalak. Kujaga agar wajahku tetap menatap gelas kopi yang baru terminum tidak sampai setengahnya. Mereka tidak bermaksud apa-apa. Ya, tidak. Aku mendongak menatap jam dinding yang agak retak di sisi warung. Sebentar lagi bocah ini toh akan pergi bersekolah. Hmh, masih ada waktu untukku berlari sedikit lagi. Pasar masih ramai.
            Kukeluarkan receh yang tersisa di kantungku dan mendentingkannya di atas piring. Terima kasihku hanya berupa gumaman, entah didengar atau tidak, segera saja aku menyibak tirai warung dan memasuki keramaian pasar.
            “Ini bukan salahmu, kok.”
            Aku tahu itu. Aku tahu, tapi aku membiarkanmu! Beberapa kali mereka mengingatkanku bahwa aku hanya perlu mengawasimu. Tapi mengasihimu adalah satu hal yang tidak bisa kuelakkan. Matamu membawaku dalam dunia khayal. Matamu yang kemudian menatapku bersimbah darah.
            Kubawa kakiku berlari begitu kudapati diriku berada dalam sebuah pemukiman. Berpapasan dengan beberapa anak sekolah dan para pegawai kantoran. Seharusnya aku menaiki kendaraan umum dan pergi jauh, tapi kantong yang hampir tak berisi ini mencegahku melakukan itu. Aku hanya terus berjalan dan mendapati jalan raya yang sudah ramai.
            Sejak dulu aku berada di dekatmu. Diperintahkan menjaga jarak sekalipun, aku masih di dekatmu. Matamupun tidak melihatku, tapi aku melihatmu. Aku tersenyum kecut. Di saat matamu membelalak menatapku, aku pergi. Aku menjauh, dan kau meninggalkanku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar