Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pikiran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Maret 2014

Gelap Lagi

Setiap kali aku menatap ke langit, aku dihadapkan pada gelapnya

Seperti sinar mentari,
Melihatmu datang menghampiri tempatku berpijak
Membuatku sedikit bergidik
Terangnya wajahmu diselingi rona yang tidak kuketahui mengapa
Namun melihat wajah itu hanya membuatku semakin dalam
Berpikir dan mengira-ngira
Dalam satu kepala yang kurang pengajaran ini,
Begitu banyak pikiran yang terbersit dan melompat-lompat
Hingga tidak sanggup lagi kurangkaikan katanya
Terangnya wajahmu membuatku menatap pada kedua kakiku
Menatap kedua tanganku yang terpaut dan mengepal
Entah siapa lagi yang kemudian
Kudengar suaranya bertanya
Bertanya dan terus bertanya,
Mengapa mereka masih saja bertanya?
Kosongnya pandangan dari kedua bola mata ini
Bukanlah suatu hal yang dapat kujelaskan jika kau tanya
Jika saja aku sanggup menyusun kata dan cerita
Sepertimu, sedikit saja mendekati caramu
Aku pasti telah mencoba mendongak
Sebab yang kujumpai hanyalah gelap
Langit, bumi telah menunjukkan padaku batas dari sebuah kesabaran
Bukan batas, namun celah
Langit, tidak dapatkah aku meraih sedikit kesempatan?
Sedikit yang kumiliki dan aku sudah ingin mendongak
Kemudian ditunjukkanlah padaku sudah berapa lama aku menunduk
Penyambutan itu dipimpin malam,
Dan memang hanya diisi oleh malam
Hingga mata ini berputar menggandeng kebingungan
Mungkin memang aku hanya dapat melanjutkannya saat ini
Saat di mana kemanisan terlelap
Menyisakan sepi, dan di sanalah
Kelengahan menemani setiap masa yang kuraih
Lambat, sekian lambat
Hingga tanganku tak mampu meraih cahayanya
Itulah mengapa
Kini kita hanya berputar-putar di tempat ini
Menunggu pagi tiba, menunggu terangmu lagi
Langkah yang terhenti saat aku menatap ke bawah
Terhenti lagi saat aku mendongak ke atas
Sesaat mencari-cari harapan, sudah demikian banyak
Waktu yang berlalu
Langit, kau beri lagi malam bernaung di atas kepalaku
Desah yang melayang menyusul kelelahan
Tak kau indahkan
Kedua tanganku tak lagi terpaut, kau tahu
Mereka mengeras di tempatnya, gemetar
Entah siapa lagi yang bicara,
Entah siapa lagi yang memanggil
Namun malam hanya mengisyaratkan sepi untuk menemani
Bahkan ketika aku yang bertanya
Oh, kedua kakiku gemetar
Berkali-kali terjebak dalam emosi yang sesaat
Betapa ingin mereka berlari
Namun yang didapati hanya lelah
Lelah yang mengejek, sudah berapa lama kau tidak berlari
Hingga kini kau masih di sini
Berputar-putar dan tiada yang kau raih
Tengoklah sekali lagi,
Langit sudah memuram
Pagi pun masih lama datang
Sekali lagi kau kehilangan kesempatan itu
Sekali lagi kau ‘kan menangis


_Kalibata, 11 Maret 2014. 01.15                                                   

Jumat, 15 November 2013

Mungkin Besok


Seorang sahabat bukanlah orang yang selalu senang dan tertawa bersamamu, tapi dia yang juga sedih dan turut menangis dalam dukamu..
Seseorang yang berharga adalah dia yang mampu membuatmu tertawa, juga dia yang mampu membuatmu menangis karenanya, sebab itu berarti engkau menghartakannya..
Lalu bagaimana dengan kini?
Posisi seperti apa yang harusnya ditentukan?
Di saat tangisan, meski masih asing kudapati, namun seolah lumrah,
Seolah tidak ayal lagi untuk kualami..
Rasa-rasanya itu jamak, bermacam-macam, iro iro, terlalu berwarna-warni dibandingkan dengan tangis karena sedih, senang, marah, atau iri.
Bukan berarti aku tidak iri.
Indeed, aku sangat iri.
Kemampuan, keterampilan, keramahan, kesungguhan, bahkan terkabulnya do'a.
Semua hal itu membuatku iri.
Semua hal itu ingin kumiliki.
Tapi sebagaimana aku menginginkannya, maka aku tidak ingin melihat orang yang memilikinya itu terlalu dekat.
Sebagaimana aku berhasrat, aku semakin sadar betapa tidak layak aku mendapatkannya.
Tangis itu bermacam-macam, iro iro, berwarna-warni.
Sebab sudut mulutku tidak melulu tertarik ke bawah, tapi juga ke atas, terkerut dan bahkan menyamping membentuk garis datar, miris.
Maka apa yang bisa dilakukan?
Di saat pepohonan bergemerisik dalam kerahasiaan, bintang berpendar dalam pengamatan.
Tidak bisa. Aku tidak bisa bergerak.
Apa yang kuharapkan untuk terjadi dan apa yang tidak?
Mana bisa kuleraikan segalanya sedangkan kusut itu melilitku juga?
Pikiran yang dipenuhi oleh suara-suara, adakah mantap pilihan yang ia buat?
Lalu bagaimana dengan kini?
Rasa-rasanya itu banyak, kelap-kelip, terang gelap dan samar-samar.
Dan di saat gadis-gadis ayu merangkaikan cahayanya, aku hanya diam memandangi kerlipnya.
Entah kapan.
Maka kerlipnya itu indah, besar-kecil, cerah-sendu, berwarna-warni, iro iro.
Aku bahagia meneteskan air mata haru, kesedihan, amarah, kecemasan, kebahagiaan.
Itu artinya aku menghartakanmu, walau cahaya-cahaya keceriaan itu tidak jua terangkai menjadi satu lingkaran utuh.
Aku bahagia menatap warna-warna yang tercurah di sana.
Entah kapan.

_9 September 2013, 16.01_

Senin, 21 Oktober 2013

Masih Jauh


Sebuah tulisan untuk Mata Kuliah Penulisan Populer

Napasku tersengal. Gila! Seharusnya aku tidak bekerja sama dengan orang-orang itu! Hidungku kembang kempis tanpa irama, hasil dari berlari tanpa henti. Langkah kaki yang terburu mulai melambat. Hampir mati rasanya. Entah sudah berapa jam berlari, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Mataku sudah terbiasa dengan kegelapan, tapi sama sekali tidak kuperhatikan jalan di bawah sepatu usangku. Di pipiku masih ada jejak tangis. Pengecut memang. Sudah seberapa jauh kutinggalkan tempat itu? Ah, aku tidak bisa memikirkannya. Aku meninggalkanmu. Wajahmu. Lari! Itu saja yang ada dalam pikiranku.
            Ponselku bergetar. Tanganku juga gemetaran saat merogoh kantung jeans belel yang kukenakan untuk meraih teknologi murah itu. Nyaris terselip jatuh, tanganku licin oleh keringat. Kusahuti panggilan dengan kedua tangan memegangi ponselku.
            “Apa? ..Entahlah, aku tidak tahu! Masih gelap … apa maksudmu? Itu bukan salahku! Kau sendiri lari seenaknya seperti ayam! Hancur semua! …hei!”
            Suara di seberang berubah menjadi dengingan keras yang menyakitkan telinga. Asal saja kutekan tombol-tombol itu. Baterainya nyaris habis. Aku mengumpat. Tidak sempat kutanyakan di mana keberadaannya dan dia sudah memutuskan pembicaraan, kurang ajar!
“Aku tahu kau bekerja untuknya.”
Tiba-tiba aku merinding. Tersentak. Terdengar suara-suara di belakangku. Keramaian pagi, baru kusadari matahari sudah memanjangkan sinarnya dan menemukanku yang berada di balik balok-balok kayu. Kupaksakan kakiku untuk berlari lagi.
           
            “Kopi hitam?” tanya bocah itu.
            “Iya, hitam.” Ujarku tanpa melihat wajahnya. “Kau punya, kan?”
            Bocah lelaki belasan tahun itu mengangguk-angguk canggung, lalu mulai menyeduh. Mungkin masih terlalu pagi untuk seorang lelaki tua berwajah buruk menyelinap warung yang baru saja diangkat tirai penutupnya. Apalagi kemeja yang kukenakan ini sudah basah oleh keringat. Warna biru motif kotak-kotaknya terlihat seperti ungu. Jika kucuci dengan baik, noda merah di sana tidak akan terlihat lagi. Sudah tiga hari aku berjalan. Pasti sangat buruk kelihatannya. Uangku sudah habis.
Bocah itu masih menatapku. Saat kubalas tatapannya, ia jadi terlihat panik dan terburu-buru. Bah, apa ini masalah? Yang kuminta hanya secangkir kopi.
            Aku tidak bisa memusatkan perhatian. Leherku terus bergerak mengikuti kepalaku yang terus menoleh dan mendongak. Warung-warung lain terlihat mulai sibuk, mereka membuka pintu dan menata bungkus-bungkus minuman instan. Di jalanan pun para pedagang kaki lima sudah mulai beraktivitas. Beberapa pembeli sudah berdatangan. Ah, pasar. Terakhir kali aku datang ke pasar seperti ini, yang kudapat hanya keluhan dari perempuan yang tidak mengerti apa-apa! Tentu saja. Wajahnya baru akan menampakkan seringai tipis ketika berada dalam toko yang dipenuhi kilau permata.
            Jantungku berdegup. Aku tidak ingin mengingatnya. Wajah penuh riasan yang muncul dalam benakku menjadi kabur dan berganti-ganti. Wajah itu tertawa. Mengerut. Kemudian bersemu. Bukan, ketakutan. Tidak, tidak. Air matanya nyata sekali, berbeda dari yang sebelumnya. Tertawa lagi.
            Menurutmu aku bisa meminta dibelikan yang ini?” Suaranya berdesir di dalam kepalaku. Suara yang manis dan sedikit serak. Kikik tawanya khas sekali. Terngiang-ngiang. Bayang-bayang kerut kecil pada sisi matanya menghiasi senyuman lebar yang menampakkan deretan gigi putih memukau. Senyumnya tidak ditujukan padaku. Padahal aku bisa membelikan itu seandainya orang yang dia perhatikan itu menggajiku lebih baik lagi. Perempuan itu menatapku, tapi jauh. Gambaran itu berpendar dan berganti-ganti. Kepalaku berdenyut, wajah itu menghantuiku sepanjang pelarian malam-malam kemarin. Matanya terbelalak dan senyumnya rusak. Tapi tawanya tetap bergema di telingaku. Sakit sekali kedengarannya. Kupejamkan mataku kuat-kuat. Matanya menangis…
            “Bung, kau kenapa?”
            Keras kuangkat kepalaku. Di sampingku duduk seorang laki-laki berseragam cokelat. Kulitnya keling dan matanya hitam legam. Wajahnya bertanya, namun pada saat yang sama juga menunjukkan rasa tidak ingin tahu.
            Kuturunkan telapak tangan dari telingaku. Aku menggeleng kecil dan melontarkan pandangan “bukan urusanmu” sekilas. Meskipun aku yakin, lingkaran hitam di bawah mataku pasti akan melemahkan sorot mata sok kuat yang kupancarkan. Sial, aku melemah. Pelarianku sudah berhasil dan tidak ada jejak yang kutinggalkan sehingga polisi tidak akan mengejarku lagi. Tetap saja jiwaku sudah surut, kepalaku dipenuhi berbagai hal yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang waktu bersamamu. Aku tidak punya tujuan lagi.
            Lelaki di sampingku kembali pada piring gorengannya. Wajahnya terlihat santai, tidak adakah beban pikiran di kepalanya yang berambut cepak itu? Dia meminta air pada si bocah sambil membicarakan banyak hal. Kubiarkan mereka berbincang tanpa memperhatikan sedikitpun.
            “Kopinya keburu dingin, bang.” Bocah warung itu mengingatkan. Aku baru sadar bocah itu sudah berganti pakaian. Seragam merah putih yang dikenakannya terlihat lusuh. Ia membenarkan letak topinya yang kebesaran. Heh, baru sekarang kuperhatikan wajahnya. Anak ini seharusnya sudah SMP.
            “Kalau aku punya anak, lebih mudah menarik dia untuk bersamaku, bukan?”
            Aku menggeleng kuat. Kamu tidak sadar! Tidak pernah sadar! Kenapa wajahmu begitu sumringah setiap kali membicarakan orang seperti itu, heh! Kau tidak pernah cukup dengan apa yang kuberikan padamu! Napasku memburu lagi. Tanganku gemetar. Suara-suara yang lain terdengar di telingaku. Suara-suara para laki-laki.
            “Kau seharusnya mengawasinya. Jangan biarkan ia bertingkah!” diikuti bayang-bayang uang. Harta semu! Sudah lama kubiarkan lembar-lembar baru itu teronggok begitu saja di bawah bantalku. Di saat aku memerlukannya, ia tidak pernah ada! Mana sempat aku mengambilnya, kamar itu pasti sudah dibuat porak-poranda oleh mereka.
            “Kau cukup mengawasi di sana.”
Kemudian bayang-bayang itu. Bayang-bayang mengerikan yang terbungkus kegelapan malam. Bayang-bayang yang mungkin akan menghantuiku seumur hidup.
“Di sini bukan lagi tugasmu! Pergilah! Kau tidak diperlukan lagi jika sudah terlalu banyak tahu,”
…dan aku meninggalkanmu. Menjauh lagi. Hanya saja, kali ini lebih buruk. Meninggalkanmu berarti membiarkanmu meninggalkanku. Takkan lagi kutemui ringis kecilmu.

            Denting gelas membuat mataku terbuka.
            “Kau dengar ribut-ribut beberapa hari ini? Sepertinya ada maling atau apa,”
            Mataku terbelalak. Kujaga agar wajahku tetap menatap gelas kopi yang baru terminum tidak sampai setengahnya. Mereka tidak bermaksud apa-apa. Ya, tidak. Aku mendongak menatap jam dinding yang agak retak di sisi warung. Sebentar lagi bocah ini toh akan pergi bersekolah. Hmh, masih ada waktu untukku berlari sedikit lagi. Pasar masih ramai.
            Kukeluarkan receh yang tersisa di kantungku dan mendentingkannya di atas piring. Terima kasihku hanya berupa gumaman, entah didengar atau tidak, segera saja aku menyibak tirai warung dan memasuki keramaian pasar.
            “Ini bukan salahmu, kok.”
            Aku tahu itu. Aku tahu, tapi aku membiarkanmu! Beberapa kali mereka mengingatkanku bahwa aku hanya perlu mengawasimu. Tapi mengasihimu adalah satu hal yang tidak bisa kuelakkan. Matamu membawaku dalam dunia khayal. Matamu yang kemudian menatapku bersimbah darah.
            Kubawa kakiku berlari begitu kudapati diriku berada dalam sebuah pemukiman. Berpapasan dengan beberapa anak sekolah dan para pegawai kantoran. Seharusnya aku menaiki kendaraan umum dan pergi jauh, tapi kantong yang hampir tak berisi ini mencegahku melakukan itu. Aku hanya terus berjalan dan mendapati jalan raya yang sudah ramai.
            Sejak dulu aku berada di dekatmu. Diperintahkan menjaga jarak sekalipun, aku masih di dekatmu. Matamupun tidak melihatku, tapi aku melihatmu. Aku tersenyum kecut. Di saat matamu membelalak menatapku, aku pergi. Aku menjauh, dan kau meninggalkanku.

Rabu, 25 September 2013

Senja di Taman Lingkar


Sebuah tulisan untuk Mata Kuliah Penulisan Populer


Kala matahari semakin jelas bergerak menuruni langit, puluhan langkah kaki manusia semakin meramaikan jalanan luas pelataran gedung perpustakaan. Berbagai macam orang berjalan mondar-mandir di setiap sudut perpustakaan. Tidak hanya mahasiswa, tetapi juga orang-orang bergaya kantoran, petugas, atau sekadar penduduk yang melintas. Tujuan mereka berbeda-beda, ada yang menuju ke tempat peminjaman buku di lantai dua dan seterusnya, laboratorium komputer, atau sekadar lewat dan duduk-duduk di taman sepertiku. 


Mereka yang tidak memasuki gedung perpustakaan pasti akan melintasi taman yang diapit oleh gedung perpustakaan ini. Sesuai namanya, Taman Lingkar memiliki tempat duduk berupa semen berbatu yang dibentuk melingkar, bersisian dengan gedung perpustakaan yang juga memiliki bentuk sedikit melengkung. Di sisi-sisi taman terlihat pohon yang besar, yang menjadi tempat berteduhnya para mahasiswa kala terik matahari menyengat seperti siang tadi. Dari taman ini dapat terlihat gedung Balairung UI yang sedang ramai dengan suara-suara musik, entah untuk kegiatan apa lagi. Mungkin, karena begitu banyak kegiatan yang dapat diselenggarakan di UI ini. Dari Taman Lingkar ke Balairung UI terpisahkan oleh sehamparan danau yang cukup luas. Pada permukaan airnya masih terlihat pantulan cahaya matahari yang sudah semakin berpendar. Gedung perpustakaan yang memiliki enam lantai ini cukup tinggi sehingga sedikit banyak menghalangi cahaya matahari yang sudah semakin condong ke barat.
Gedung perpustakaan bernuansa abu-abu terang, dengan material yang memantulkan cahaya sehingga terlihat gemerlap dan megah. Pintu-pintunya yang terbuat dari kaca terbuka, sehingga orang-orang yang berada di dalamnya dapat dengan mudah keluar-masuk. Dindingnya pun didominasi oleh kaca, sehingga aktivitas mereka yang berada di dalam perpustakaan dapat terlihat oleh kami yang duduk di taman. Di lantai dasar, di dalam ruangan bernuansa cokelat, terlihat muda-mudi yang duduk menikmati isi cangkir masing-masing. Di atas kaca jendelanya terlihat sebuah simbol hijau bertuliskan “Starbucks”. Di jendela pada sisi gedung yang lain dapat terlihat mahasiswa yang sedang duduk dan mengobrol , atau mungkin mengerjakan tugas perkuliahan yang menumpuk, sehingga lingkungan perputakaan ini terasa begitu luas.
Pada sore hari seperti ini, biasanya aku melihat para pemusik berkumpul dan berlatih biola, violin, alat musik tiup atau alat musik lainnya, diiringi dengan pelatihnya masing-masing, atau mungkin hanya temannya. Hari ini mereka tidak terlihat, atau belum, atau mungkin perhatianku masih teralihkan oleh semilir angin dan keramaian. Para mahasiswa masih terlihat berkumpul dengan sesamanya, mengerjakan tugas secara lesehan di taman, makan bersama atau sekedar duduk-duduk dan mengobrol. Penampilan merekapun bermacam-macam. Ada yang terlihat seperti mahasiswa biasa dengan kemeja atau blus, ada pula yang mengenakan kaos kutang dan jeans. 
Potongan rambut mereka pun bervariasi dari yang rapi, klimis disisir menyamping, panjang awut-awutan, keriting kribo, cukur sebelah atau bahkan gundul licin.  Suasana yang temaram dan teduh di sore hari seperti ini sangat menyenangkan bagi mereka yang duduk bersantai. Di jalan setapak sekeliling Taman Lingkar inipun terlihat banyak orang yang berlalu-lalang. Mungkin mereka baru saja meminjam buku atau bisa jadi hanya lewat, dalam persinggahan dari satu fakultas ke fakultas lain, atau menuju ke Masjid Ukhuwah Islamiyah yang letaknya persis di sebelah parkiran belakang perpustakaan.
Ada beberapa mahasiswa yang kulihat berjalan dengan mengenakan papan dada sebagai pengenal, maka dapat ditebak bahwa mereka adalah para mahasiswa baru yang sedang menjalani masa orientasi dari jurusan masing-masing, sebab masa orientasi kampus dan fakultas setahuku sudah selesai beberapa pekan lalu. Di dekat pohon besar di pinggir lingkaran batu, bertemankan dedaunan gugur terlihat para mahasiswa yang duduk berkumpul dan memakan perbekalan masing-masing, yang mungkin baru dibeli dari kantin fakultasnya, atau dari kios-kios makanan yang berada di dekat pintu keluar di sebelah Café Korea. 
Beberapa petugas berseragam hijau terlihat menyapu dengan tenang, sesekali berbincang sesama mereka, dengan menggiring tempat sampah berbentuk persegi panjang dan juga berwarna hijau. Seorang laki-laki berpakaian seperti orang kantoran terlihat menyapa mereka sekilas, berbicara sebentar dan kemudian pergi menelusuri jalan yang menuju Rektorat, jalan yang bersisian dengan tepi danau. Jika terus menelusuri jalan itu, kau akan tiba di Balairung dan seolah-olah telah melintasi danau, sebab Balairung berada nyaris tepat di seberang perpustakaan. Di danau itu terdapat orang-orang yang mendayung perahunya, mereka terlihat bersenang-senang, tertawa dan bertingkah sesukanya di tengah-tengah danau itu. Aku bahkan tidak tahu apakah itu diperbolehkan.
Matahari sudah tidak terlihat, cahayanya yang temaram semakin samar dengan datangnya  bayang-bayang gelap yang menandai datangnya malam. Gedung perpustakaan yang berada di sisi kiriku terlihat semakin gelap, kecuali cahaya-cahaya lampu yang terlihat melalui jendela-jendelanya menciptakan terang yang begitu berbeda. Sebentar lagi musik tradisional akan diputar di seluruh pengeras suara gedung, menandakan perpustakaan akan ditutup dan para mahasiswa sudah harus pulang. Akan tetapi tidak banyak yang beranjak dari tempatnya, semua orang masih santai mengerjakan aktivitasnya masing-masing, mungkin terlena dengan suasana yang temaram.

Kamis, 19 September 2013

Sisa Hujan


sebuah tulisan untuk Mata Kuliah Penulisan Populer
19 September 2013, 11.34

Beban seperti bertambah ketika kakiku melangkah menapaki jalanan berbatu yang mulai menanjak. Hampir saja aku tersandung. Permukaan batu-batu kelabu ini memang sudah banyak terpecah, seolah mengundang pejalan kaki untuk mencium bau tanahnya yang baru saja tersirami hujan. Bahkan lembaran ilalang yang menghiasi sisi jalan ini masih meneteskan bulir-bulir air, cahaya matahari terpantul membentuk kerlip-kerlip kecil. Indah, seperti tidak membiarkan kelopak bunga yang berguguran di sisinya untuk mengering, merengut ditapaki para mahasiswa yang sibuk berlalu-lalang.
Seorang mahasiswi dengan tas punggung berwarna beige membungkukkan badannya di depanku. Ia membetulkan tali sepatunya sembari masih mengobrol dengan kedua temannya yang masing-masing menggantungkan hiasan berwarna-warni pada tas mereka. Mataku menyipit menatapnya, warna-warni gantungan smiley itu seperti menertawakanku. Untungnya jalan sudah mendatar kembali, maka tidak sulit untukku berhenti sejenak.
Angin semilir membawa selembar daun kering menempel pada kacamataku. Kulepaskan genggaman pada payung ungu lembab yang kubawa agar aku bisa leluasa membersihkan kacamata yang mulai basah. Mataku mengerjap-erjap, kebetulan memperhatikan sesuatu yang berbentuk seperti bola menggantung di dahan pepohonan. Buah apa yang sebesar itu? Kutebak rasanya tidak manis. Di tempat seperti ini kurasa kampusku asri sekali. Cantik, warna merah kelopak bunga menemani warna-warna kering daun yang sudah berguguran di sepanjang jalan setapak ini. Di sekelilingnya hanya ada hijau warna rerumputan dan ilalang yang terhampar hingga ke sudut-sudut yang tidak terlihat ujungnya.
Sesaat kukira aku tidak akan bisa memutuskan jalan mana yang akan kuambil, seperti terhadap alur takdir yang tidak pernah bisa kutebak akhirnya. Akan tetapi daun dan ranting pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi di sisi-sisi jalan ini menjatuhkan sisa hujan ke atas kakiku yang tidak terlindungi lapisan sepatu. Dingin, seperti pagi hari saja. Bahkan pohon berbatang putih di sebelahku inipun ikut menggigil.
Tidak lama setelah berjalan kembali, di sebelah kiri kudapati bangunan berbentuk bundar sederhana yang disesaki para mahasiswa. Aroma berbagai makanan bercampur dengan asap rokok menggeliat keluar dan mengawang-awang ke langit yang tampak masih setengah mendung. Huah, abu-abu memang cocok untuk warna kelabu langit yang habis menangis, tapi tangisannya malah akan semakin menjadi-jadi jika gumpalan debu itu terus naik. Seperti tangisku saat mendapati kelabu menghampiri matamu yang memohon.
Awan berarak dengan enggan, didominasi oleh warna-warna kesedihan. Akan tetapi langit masih mencoba menampakkan ketegaran lewat celah-celah yang dilintasi cahaya mentari, harmonisasi yang lembut menyapa mataku yang juga masih sembab. Padahal, hari ini masih panjang. Bisa saja hujan turun kembali, itu sebabnya payung ini belum kulipat kembali. Matahari akan tertutupi lagi oleh awan, sekali lagi menurunkan perih pada luka-luka bumi yang belum juga kering.
Tepat di hadapanku kini terdapat sebuah kolam –entahlah—dengan bejana air yang cukup besar di tengah-tengahnya, berdiri ditopang batang-batang besi yang melingkar. Pinggiran kolam tertutupi oleh tetumbuhan berwarna ungu gelap, namun warna tembaga pada besinya terlihat pucat. Kesan yang ditimbulkan jalanan ini memperlihatkan usianya yang tidak sebentar. Biar bagaimanapun kampusku ini sudah tua, menyimpan banyak kenangan yang tidak kuketahui. Di jalan ini pernah lewat muda-mudi yang membawa alat-alat musik atau setumpuk buku diktat, seorang pengembara tanpa alas kaki dengan jaring menggantung di punggungnya, juga seorang diktator berdasi hitam dengan beberapa penjilat mengelilinginya. Mereka datang, menatap bejana air ini sebentar dan berlalu, tanpa repot-repot menengok pantulan wajah mereka pada genangan air yang kehijauan ini. Mereka tidak mau melihat wajahnya berwarna hijau sepertiku kini. Tidak, justru pucat.
Kolam dengan bejana ini seolah menjadi pusat perhatian meski tidak terindahkan lagi, sebab di sinilah terdapat persimpangan jalan. Selain jalan di sebelah kiriku yang mengarah pada kantin sastra, jalan di sebelah kananku bercabang dua dan jalan di depanku pun demikian. Jika meneruskan jalan ini, aku akan sampai pada persimpangan satu lagi yang berada di depan mushala kampus. Bangunan yang baru saja direnovasi itu belum terlihat, sebab jalan berbatu ini berkelok-kelok dan dihiasi pohon-pohon di sisinya.
Dari sana datang seorang mahasiswi yang mengenakan kemeja polkadot ungu dan merah, ia menundukkan kepala agar bando Minnie Mouse-nya tidak terantuk dahan. Sayang, sepatu teplek berwarna biru yang dikenakannya malah terkena genangan air akibat dia tidak memperhatikan langkahnya. Seharusnya seseorang bisa menyingkirkan dahan itu lebih dulu. Tidak, apa yang kupikirkan? Gadis itu kan sendirian. Diam-diam kudoakan agar ia mendapat tempat berteduh saat hujan menderu lagi.
Aku mengarahkan pandangan pada jalan yang terbentang di sebelah kanan. Dari balik pohon-pohon yang masih meneteskan sisa-sisa tangis, terlihat sosok-sosok para mahasiswa yang melangkah dari dan menuju gedung perkuliahan, sebagian mereka mengenakan papan nama. Rombongan itu menjadi satu dengan rombongan di belakangnya yang mengenakan seragam tim. Suara-suara mereka diliputi kelegaan, hujan yang deras sepanjang pagi tadi rupanya menghambat aktivitas sebagian dari mereka. Kubiarkan kelebat papan nama berwarna emas dan merah biru itu melewati pandangan, hingga sesuatu menyentuh pundakku dengan ragu.
Sesaat kukira hujan turun lagi. Ternyata itu hanya embun yang menetes dari helai-helai rambutmu yang berantakan. Mata itu menatapku, seiring cahaya yang tersisa menyeruak sisa hujan. Rupanya matahari tidak akan pernah menyerah.

Selasa, 25 Juni 2013

Abstract


Terang lagi..
Entah sudah berapa hari yang kulalui mengurung diri.
Eh, bukan dalam hal yang gloomy, bukan, justru aku sangat menikmatinya.
Inipun masih kurang.. Waktu yang kusediakan untuk diriku sendiri masih terasa belum tepat sebelum kulaksanakan keinginan itu satu-persatu.
Kata-kata tenggelam dalam senyuman yang tersungging kala melihat bercampurnya warna-warna itu.
Lalu kemudian aku lupa lagi. Aku memang hampir selalu lupa. Itulah yang selalu diwaspadai oleh para orang-orang besar, mereka katakan, “Jika inspirasi itu datang, segera tuangkan sebelum dia pergi”
Dan aku hanya membiarkannya berlalu.
Kalau kau lihat wajahku sekarang, aku sedang tersenyum. Dibilang aneh ataupun tidak berkeinginan pun aku tidak begitu peduli, ini hanya tentang rasa nyaman.
Nah lho, kau mengingatkanku lagi akan rasa nyaman.
Dari tahun ke tahun aku hidup dengan keinginan melalui sebuah petualangan. Entah kenapa aku selalu menginginkan hal-hal yang mencangkup sebuah tantangan.
Hal-hal yang mereka bilang sulit, tapi aku dengan sok percaya mencoba melaluinya.
Padahal aku ini manusia dengan sedikit sekali rasa kepercayaan diri.
Dan di setiap hal yang kuinginkan, aku selalu mendapatkan sisi amannya.
Eh, subhanallah ya, ini seperti kata-kata seseorang.
“Jika kamu berharap, berharaplah secara spesifik pada satu hal yang tinggi. Allah akan mengabulkan harapanmu pada hal yang lebih tinggi atau paling sedikit ia akan memberimu hal yang kau minta itu.”
Lalu bagaimana, dong? Aku entah kenapa selalu ingin mempersulit diri, padahal pilihan yang baik sudah diperlihatkan di depan mataku.
Baiklah, jika mengikuti jalan yang kususun sebagai seorang yang tidak peduli sekitar, aku tahu..
Sudahlah. Lupakan semuanya. Hari ini cerah, seharusnya berikan kesempatan pada dirimu untuk menikmatinya.
Nikmat Allah itu sangat luas, jangan bertingkah seolah-olah kita sudah tahu batasnya. In fact, batasnya itu tidak ada jika kita memenuhi kondisinya.
Kalau Allah berkehendak, nikmat-Nya tidak akan menyelinap pergi dari genggaman tangan ini.
Walau bisa juga berlaku sebaliknya, tapi kamu percaya kan pada kata percaya itu sendiri?
Aku juga begitu. Lagipula, siapapun kamu yang membaca huruf-huruf random ini, aku percaya kamu tidak menghakimiku dengan satu sisi saja, karena apa yang ada dalam benak manusia itu kan hanya Allah yang tahu.
Hm? Apa aku mulai bicara ngalor-ngidul lagi?
Tapi memang begitulah yang terjadi ketika kau menempatkan dirimu menyukai lintasan pelangi.
Bukankah warnanya bukan hanya satu? Justru keberagaman itu yang membuatnya indah.
Apa aku sedang memuji diriku sendiri? Nggak kok, aku justru memuji kamu.
Tuh kan, kebiasaanku adalah melakukan hal yang bertolak belakang dengan perkiraan orang.
Tapi anak kecil itu penurut, kok. Mereka hanya ingin melakukan apa yang mereka sukai. Percayalah bahwa mereka pun bisa menjadikan apa yang mereka kerjakan itu sebagai hal yang mereka sukai.
Seperti dalam cerita-cerita dongeng, kita sama-sama menyukai takdir, kan?
Maka kehangatan perasaan itu tidak akan lari ke manapun.
Selama cahaya kemurnian itu kita jaga dalam hati, apapun yang menghampiri pasti dapat kita lalui.
Di jalanku, di jalanmu, di jalannya, di jalan kalian, di jalan mereka, toh semuanya berusaha melalui jalan yang benar. Apakah jalan yang benar itu hanya ada satu? Atau mungkin hanya cara kita melaluinyalah yang berbeda.
Hei, tentram sekali gemericik di sini. Kalau kamu bisa mendengarnya, mungkin pikiran kita sudah saling terpaut.
Kalau tidak? Tidak apa, ini hanya hal acak yang kucanangkan sendiri.
Apakah senyum itu masih ada pada wajahmu? Aku yakin kamu percaya.
Kata seseorang yang menyenangkan, “Daripada tersenyum karena hal baik yang ada di sekitarmu, kenapa tidak coba untuk tersenyum lebih dahulu? Maka hal baik akan datang dengan sendirinya di sekitarmu.”
Jalan ini kita buat sendiri. Anak tangga ini kita susun sendiri.
Cobalah untuk tetap tersenyum, banyak hal yang akan kita temui.
Tulisan ini sudah semakin menyimpang? Sudahlah, aku tidak peduli.
Namanya juga belajar untuk meraih pembelajaran yang sejati.
Eh, berima. Sok puitis sekali aku ini.
:D

_Kalibata, 25 Juni 2013, 13.14 WIB

Minggu, 09 Juni 2013

Membeku



Terpaku oleh waktu
Sosok-sosok yang teronggok meratap dan menggeletak
Seperti telah tersapukan seluruh keinginan dalam hatinya
Seperti telah tertelan dalam putaran takdir yang membisu
            Terpaku oleh waktu
            Sekelebat bayang-bayang gelap dasi dan tas kulit hitam
            Sumringah di wajah sesenti lebih tinggi melihat kilau berlian
            Terlena dalam jutaan jepretan media yang semakin palsu
Samudra menggelegak
Merespon tangis langit di mana awan terlihat koyak
Memerintahkan jutaan buih, menghampiri lava yang terlelap
Akan tiba saatnya kau bangkit, binasakan para perusak

Terkurung dalam memori
Semburat merah pipi anak-anak yang bermain dan berlari
Aroma segar para wanita yang bercengkrama di sore hari
Tawa gembira, bahagia, saat kepala keluarga telah kembali
            Terkurung dalam memori
            Lompatan kecil putih merah di antara bebatuan
            Percik jernih yang ditimbulkan riak dan arus jeram
            Hijau sawah, lembah kabut dan puncak pohon durian
Menangis sudah potret para pendahulu
Pelukis sejarah yang pupus harapnya akan pewaris
Tumbang sudah pohon-pohon impian dalam sendu
Menyisakan benih, berbalut cinta tapi keruh dalam tangis

Udara semakin pekat menggeliat dan menggeram
Wajah-wajah yang masih memandang dengan satu mata terbutakan
Palsu, palsu, segalanya penuh intrik dan kuasa tanpa setitik moral
Tak sabar kaki tangan dan lidah untuk bersaksi meminta sesal
            Gemuruh langit berputar menurunkan kegelapan malam
            Membalut sosok-sosok tanpa daya dalam dingin peremuk tulang
            Tangan-tangan kuasa esa terulur di atas kepala batu manusia
            Menutup, mengambil dan menghentakkan masa
Tiada daya, tiada upaya
Gelap ‘kan menyelimuti tanpa suara
Mata terpejam tanpa sempat menatap asa
Lenyap, sirna tiada kau merasa

Rabu, 01 Mei 2013

Samar-samar dan Terlelap


Kutitipkan do’a pada sepasang burung
Yang terbang meninggalkan teralisku
Menuju langit luas tak terbatas
                Kutinggalkan harap pada empuk bantalku
                Untuk kuintip dan kukumpulkan
Jika nanti di sana kubenamkan wajahku
Penaku menari seperti terisap angin
Menyaingi gerak lembut dedaunan
Sebelum akhirnya terputus, jatuh berguguran
                Maka kuresapi setiap kata yang telah tertulis
                Meraih kembali semangat yang kupatri
                Jauh, di hari-hariku yang sepi
Impian, kau lihat aku?
Aku tahu kau mendatanginya
Ia yang merangkak bangkit dan berjuang
Pergi meninggalkanku sendiri
                Pemimpi mungkin jarang hanya bermimpi
                Ia menanggalkan keluguan di pohon cemara
                Mengepak, terbang sekuat tenaga ke sana
                Tinggallah ia sebagai pemimpi abadi
Jika sanggup tangan ini meraihnya
Melingkarkan diriku di dalam peluknya
Semesta bertaruh, berapa lama lagi
Pemimpi akan mencari mimpi yang lain
Jika saja aku punya cukup keberanian
Kukatakan padanya, datanglah padaku!
Maka mimpi itu memudar, berpendar
Berganti kenyataan yang pahit
                Oh, genangan itu menyisakan luka
                Seorang anak yang menangis keras
                Ia berlutut, menggapai-gapai
                Entah ke mana jemarinya menyatu
Kutitipkan do’a pada seutas benang
Yang rapuh dan melilit begitu banyak orang
Menyakitkan, begitu banyak kesalahan
Sebelum berujung pada batang kesempurnaan
                Pemimpi tetaplah seorang pemimpi
                Ia menatap awan, terhanyut pada butiran kapas
Menodai kaki dan tangannya dengan tanah
Dan darah, tanpa berhenti airmatanya
Pemimpi tetaplah seorang pemimpi
Ia jarang melihat kenyataan, dan tersakiti
Layarnya telah merah dan ia masih melihat kesucian
Menanti hingga kau datang ke sisi ini
_Kalibata, 31 Juli 2012, 15.09

Kamis, 27 September 2012

Pembunuh


Mimpi buruk.
Aku bahkan tidak tahu warna apa yang diperlihatkan sang dewa api. Kakiku berjalan tak tentu arah di atara hiruk pikuk manusa, penjaja. Mereka mengucap kata yang sama, kalimat yang sama. Dan sesekali melati terduduk terbujuk. Sedang mawar, terdiam memperhatikan, barangkali tak mengerti. Telinga pun bosan, mata lelah mencari. Ah.. Tetap dia yang protes, meminta lidah untuk mengumpat.
Sesak... Keramaian yang mengkungkung tanpa celah.
Gulungan putih bertebaran, tak beraturan. Si hitam jantan tergoda untuk meleburkannya, tapi aku tetap memaksanya berjalan. Toh mereka tak lagi menyala. Lagipula tidak ada yang sekesal dia, yang masih meminta lidah bicara.
Hiruk pikuk yang lembut sebenarnya, hanya tertutup kebosanan akan rutinitas. Sesederhana melati, mereka tetap tertawa. Melompat dari satu kotak ke kotak lainnya. Seakan terbiasa.
Senang, walau miris, tapi masih sesak...
Mimpi buruk. Hiruk pikuk anank-anak abu-abu meramaikan gerbong. Tawa yang seperti hantu, entah pengaruh tepung mana lagi...
Nyala itu, muncul lagi. Meski bulan telah menemani. Bukan, justru karena itu mereka semakin menyala. Hiruk pikuk beralaskan sneakers, terburu memanjati jendela. Aku tak keberatan.
Tuhan, hanya ada satu yang kukesalkan. Bahkan ketika tawa hantu itu terdengar kembali, aku hanya tertawa. Senyum di wajah pak tua sanggup mengalihkanku dari himpitan hitam reebook. Tak duduk pun aku tak apa, tergantung pun aku tak keberatan. Hanya satu, Tuhan, dalam kegelapan malam dan kekurangan cahaya gerbong, yang aku inginkan. Nyala itu. Aku tak apa tak mendapat cahaya, tapi kumohon jangan nyala itu yang ada. Tuhan, diri ini sesak. Dari hiruk pikuk komunikasi hingga hiruk pikuk anak gerbong. Aku tak apa, Tuhan, untuk berdiri dihimpit atau berjala tanpa henti. Hanya satu..
Kebulan yang mampu membuatku mati pelan-pelan itu, Tuhan, enyahkan dia.
_Stasiun Kalibata, 14April 2011, 20.00

Sabtu, 01 September 2012

Peminta

Detak.

Ah, sudah sejak dulu ia berdetak. Jika tidak, aku tidak membuka mataku sekarang.
Jadi kenapa?
Apa? Aku hanya merasa sesak sesaat, itu saja.
Jangan kau tanyakan lalu bagaimana, aku tidak tahu.
Mataku membelalak setiap kali melihatnya bicara, sebab ia tidak bicara denganku.
Apa? Oh, ya, aku mungkin terlalu terlena menatapnya.
Tak terbayangkan olehku bahwa aku bisa menemui orang yang sepertinya dalam hidupku.
Hidupku yang begini singkat, yang seringkali kukeluhkan.
Melihatnya, aku khawatir apakah hidupku lebih singkat dari yang kukira, ataukah lamanya kehidupan kemarin tidak kugunakan dengan baik?
Mungkin kau tidak mengerti apa yang kubicarakan, aku hanya kesulitan memutuskan.
Saat ia duduk di sampingku, kukira ia hanya sekedar pendatang.
Dan sekarang aku hampir-hampir menyesal membiarkannya berlaku demikian.
Kau tahu kenapa?
Ia membuatku berpikir dua kali. Ia membuatku berpikir berkali-kali.
Ia membuatku ragu apakah yang kulakukan adalah suatu perbuatan baik,
ataukah aku ini terlalu bodoh hingga ia bisa berlaku seenaknya padaku.
Tak banyak yang ia minta, kukira aku bisa memberikan sekenanya.
Tapi saat aku ulurkan tanganku, 
Oh, kau lihat sorot matanya?
Ia senang, namun
Aku bisa tahu bahwa saat itu, ia kehilangan semua kata-katanya.
Ia lupa, ia terbutakan oleh apa yang saat itu baru akan kuberikan.
Ada kabut licik tipis di matanya.
Ia seperti berkata, "mudah sekali"
Apa? Mempermainkanku tentunya.
Tapi yah mungkin aku memang bodoh, kau boleh mengejekku sesukamu.
Sebab aku tak bisa menarik kembali uluran tanganku.
Sedangkan musik mengalun di sepanjang jalan itu, aku pun tak bisa berpikir lagi.
Kau masih bertanya? Tentu saja kuberikan.
Aku mengejar waktu, jika kau ingin tahu.
Berusaha sekuat tenaga mengatakan bahwa itu adalah perbuatan baik, tapi
Aku tidak mengerti mengapa aku ragu
Ya, ya, katakan terus sebanyak yang kau mau
Aku memang sedikit, ah mungkin tidak, menyesal
Rasa takut melandaku membayangkan sosok anak-anak
Dengan pendidikan yang minim, dipanasi
Kau sering lihat? Mereka yang meminta-minta di sudut jalan bersama plastik tak terbakar.
Aku takut. Takut sekali.
Aku takut menjadi sebab akan keburukan yang melanda.
Aku takut akan orang itu,
Orang itu
Aku takut ia menjadi akar permasalahan.
Jika kau tanyakan lagi, kuberitahu.
Tidak ada masalah pada diriku. Aku tidak kekurangan sesuatu apapun.
Yang kuragukan adalah dampak perbuatanku, bukan apa yang kuberi.
Ya, ya, katakan lagi.
Aku memang bodoh.

Sabtu, 16 Juni 2012

Gila S~


Tak mengapa diri ini bicara..
Ingin kukatakan demikian, dan memang itu yang terucap..
Namun bukan itu yang terasa di dalam hatiku...
Bukan lagi aliran-aliran kepedihan, yang biasanya menghantarku pada semangat juang
Sebab kini ia telah menggenang, membuat dasar hati ini berkerak dan kotor seperti karang..
Pernahkah kau lihat seorang gila, dan seorang yang hampir gila?
Aku tak dapat membedakannya, siapa yang patut dikasihani dan siapa yang mungkin dapat dirubah
Pernahkah kau mengidentifikasikan bahwa seseorang benar-benar gila?
Sedang beberapa hal yang dilakukannya adalah masuk akal, hanya kurang sedikit rasa malu..
Pernahkah kau perhatikan sahabatmu sendiri, membedakan antara indah dan buruknya?
Mungkin kau dibutakan oleh kelogisanmu, sedang tak semua hal dapat dijelaskan oleh logika..
Aku ingin tahu jika kau pernah merasa ingin menggenggam tangannya,
Bukan untuk mengajaknya dan bukan untuk menenangkannya
Tapi hanya ingin menggenggamnya karena itu menyenangkan bagimu
Aku ingin tahu jika kau pernah merasa ingin selalu bersamanya
Bersandar padanya dan disandar olehnya
Aku ingin tahu seberapa marah dirimu saat ia kesulitan
Dan tidak datang padamu, hanya tersenyum dan berlalu
Aku ingin tahu pernahkah kau sakit akan kepergiannya
Bukan karena kata atau perbuatan, hanya oleh bayangnya yang menjauh
Aku ingin tahu pernahkah kau merasa menyimpang, melakukan kesalahan
Bukan karena kerusakan, hanya karena perbedaan yang membentang
Aku ingin tahu jika kau pernah merasa sakit
Bukan fisik, bukan hati tapi pikiran
Aku ingin tahu jika kau pernah merasa sedemikian membutuhkan seseorang
Aku ingin tahu jika kau pernah merasa sepertiku

_24 November 2011

Rabu, 16 Mei 2012

Lone


Diri tidak dapat menahan hati,
Jika terluka maka darah itu akan mengalir.
Merah, tapi bukan panas melainkan dingin.

Dingin yang begitu tajam menusuk hingga terasa menyakiti..
Mendengarkan gemeletuk kaca jendela dengan tirai yang bergetar..
Seperti memaksa masuk, sang kegelapan malam..

Untuk sesaat dia terbutakan oleh sinar lampu yang temaram..
Matanya silau,
Merah.
Di keheningan kedua kaki tertekuk, disandar oleh dagu yang bergetar.
Tetes berjatuhan, peluh dingin membangkitkan setiap roma pada tengkuk..
Terkurung dalam ruangan yang luas dan terang.

Hanya diam meratap.
Tak mampu menatap cermin, tahu ia akan menunjukkan kenyataan.
Kau menyedihkan, terkekeh lunglai.
Setiap boneka yang tertata rapi di atas meja terasa jauh. 
Jauh untuk digapai, jauh untuk dipeluk. 
Dan dingin, bahkan sekedar untuk tersenyum.

Menghindari sebuah kandang hanya akan menjatuhkanmu pada sarang.
Tangan menggenggam, mencari kekuatan.
Hati yang telah rusak, tak menemukan seutas ketegaran
Namun masih,
Masih.
Mata ini melihat.
Meski kabur oleh bayang-bayang airmata,
Meski kabur oleh bayang-bayang mereka,
Ia masih melihat.
Melihat tirai yang berombak tertiup angin.
Melihat kehangatan pada sinar yang membutakan.
Melihat cermin.
Bukankah aku adalah kamu yang menyedihkan?
Menatapnya, merasakan getar.
Di setiap aliran darah yang membasahi pelupuk penglihatan.
Menghalirkan listrik,
Berdenyut.

.........
Dan sosok itu menarik garis pada wajah yang muram.
Seutas senyum. Simpul. Tangannya bergerak menggapai.
Mendebam pada lantai, tumpukan kertas. Dan mata itu mulai bekerja.. 
Hingga ruangan sunyi itu kemudian menjadi ramai.
Bukan oleh kehadiran fisik.
Tapi jiwa.
Setiap lembaran terhempas memenuhi udara
Dan sebatang kayu bergerak.
Menari.
Menggores pada halaman putih  yang terluka.
Sesungging senyum, menemani tetes airmata yang tiada berhenti.

Suatu saat ketika aku tidak bisa lagi berkutat dengan buku dan pensil, aku akan memilih untuk mati.

_08.14, 20 November 2011
Kamar Rumah Kalibata_

Goresanku, Segaris Keinginan



Aku melukiskan gores-gores pensil pada selembar kertas putih..
Memberinya noda..
Noda yang terangkaikan menjadi bukti cinta...
Aku menggesekkan karbon pada permukaan tak merata.
Membuatnya mudah dilihat, dibedakan..
Berkali-kali aku menggores
Berkali-kali aku menghapus
Berkali-kali kuperbaiki
Dan aku tersenyum kecil melihatnya,
Tak pernah puas
Goresanku yang berwarna hitam dan putih adalah sebentuk keindahan yang takkan menyaingi kemurnian
Tidak pernah puas akan hasil coret tanganku
Tapi tidak pula menginginkan coret tangan orang lain..
Sesaat kupikirkan mengenai keceriaan..
Menyandingkan hitam dan putihku bersama warna
Secerah mekar bunga di pagi hari dan luas seperti langit..
Tapi tidak,
Aku tidak pandai melukiskannya
Warna itu kacau,
Aku takut mengacaukannya
Biarlah goresku tetap hitam putih

_29 Nov 2011